RSS

Wah, Di Palembang Ada Posyandu Yang Bisa Dibayar Dengan Sampah

Seputarsumsel.com, Palembang - Pos pelayanan terpadu atau yang disingkat Posyandu, merupakan pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Saat ini, di kota Palembang sendiri terdapat lebih dari 1000 posyandu yang masih aktif. Bicara soal posyandu, ada yang menarik, nih, yakni posyandu yang dibayar pake sampah di Kota Palembang. Posyandu apa, sih yang dimaksud?.

Adalah Posyandu Lansia Junjung Biru yang berlokasi di Jalan Demak Kertapati Palembang. Posyandu yang sudah tiga tahun berdiri ini setiap bulannya dikunjungi puluhan lansia, yang datang membawa sampahnya masing-masing.

Ide ini terbilang unik. Betapa tidak, para lansia yang datang ke posyandu tersebut, membawa kantong berbagai ukuran yang berisi sampah.

"Kami tidak mengkhususkan berat sampah yang dibawa, yang penting sampah plastik atau non organik," kata salah satu petugas posyandu junjung biru, Syafitri. 

Ia juga menuturkan, terapan membawa sampah setiap kali ke posyandu, untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

"Selain itu, membayar dengan sampah tentunya meringankan beban masyarakat terutama para lansia," papar Syafitri.

Praktis, setiap bulannya posyandu ini ramai dikunjungi para lansia yang ingin memeriksakan kesehatannya. Salah satu lansia yang dibincangi Seputarsumsel.com, Nyimas mengatakan, ia rutin memeriksakan kesehatannya, karena posyandu ini dekat dengan rumahnya.

"Lagian kesini juga gak bayar, cuma disuruh bawa sampah," katanya.

Selain pelayanan kesehatan, para lansia di posyandu ini juga diberikan penyuluhan kesehatan gratis dan senam sehat bersama, agar para lansia tetap bugar. Ide membayar dengan sampah seperti ini patut kita apresiasi, ya guys. Selain lingkungan jadi bersih, meringankan beban dengan menyediakan kesehatan gratis juga sangat membantu masyarakat. Ada yang mau meniru?.(Nurul/17)

http://seputarsumsel.com/posyandu-lansia-yang-bisa-dibayar-pakai-sampah/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Warung Pindang Terapung Mbok Sri, Sensasi Makan Pindang Ditemani Riak Sungai Musi

Seputarsumsel.com, Palembang - Penggemar pindang, pasti tahu warung pindang yang satu ini. Apalagi kalo bukan Warung Pindang Mbok Sri. Tapi jangan cari warung ini didarat, ya. Karena Warung Pindang Mbok Sri merupakan warung terapung yang berlokasi di seputaran dermaga bus air bawah jembatan Ampera Palembang.

Dahulu, sekitar tahun 80-an, Mbok Sri kecil sudah ikut sang ibunda membuka lapak warung pindang, tepat di bawah Jembatan Ampera. Mbok Sri kecil yang memang menyukai masakan khas Palembang itu, sangat gemar membantu sang ibunda di warung, sehingga dirinya paham bagaimana mengelola warung pindang yang dirintis sang ibu.

Dan ditahun 1990-an, setelah menikah dan memiliki seorang anak, Mbok Sri langsung mengelola warung pindang ibunya, yang terus berjalan hingga kini.

Kepada Seputarsumsel.com, Mbok Sri banyak bercerita tentang kehidupan sebagai penjual nasi pindang yang sudah puluhan tahun berjualan di kawasan Jembatan Ampera ini.

"Dulu jualannya dibawah jembatan, tempat orang jualan BJ dulu. Tapi sekitar tahun 2006, pemerintah sudah melarang berjualan di kawasan ini, sehingga saya dan para penjual lainnya sekarang udah berpencar ke berbagai tempat. Ada yang di pasar 26 ilir, ada yang di pasar induk Jakabaring," ceritanya.

Dirinya juga mengungkapkan alasan mengapa tetap memilih berjualan di kawasan Jembatan Ampera.

"Dari dulu, kami mencari rejeki disini, jadi saya berat untuk berpindah tempat. Akhirnya setelah digusur, saya beli kapal sendiri, dan mulai berjualan pindang di kapal," paparnya.

Sambal Embem Khas Mbok Sri

Dahulu, harga seporsi pindang hanya Rp 2000. Namun saat ini, harga per porsi sudah dibanderol Rp 20 ribu per porsi, sudah termasuk nasi, lalap, dan sambal.

Untuk pilihan sambal, warung Pindang Mbok Sri punya 2 jenis sambal, yakni sambal embem untuk lauk pindang patin, pindang gabus, dan pindang tulang, sedangkan sambal jeruk untuk pilihan menu ikan dan ayam bakar.

Jangan kira porsi nasi disini hanya sekedar porsi ceplok, istilah untuk seporsi nasi yang dibentuk dari mangkok ukuran kecil. Disini, nasi yang dihidangkan sebanyak wadah nasi ukuran sedang. Wow, benar-benar memanjakan perut, ya. Belum lagi citarasa pindang dipadu dengan sambal embem. Hmm.. rugi banget kalo gak dicoba!.

Harga untuk pindang patin dan gabus hanya Rp 20 ribu, sama seperti seporsi ikan dan ayam bakar. Sedangkan untuk menu pindang tulang hanya dibanderol Rp 30 ribu saja.

Dalam sehari, Mbok Sri mampu menghabiskan sekarung beras, lebih dari 10 kg ikan patin dan gabus, serta puluhan kg tulang sapi, untuk menyiapkan lebih dari 100 porsi pindang di warungnya.

"Warungnya dibuka mulai pukul 8 pagi. Kadang belum sampai jam 6 sore, udah habis. Alhamdulillah," kata Mbok Sri senang.

Guys, jangan bilang kalo kamu orang Palembang, kalo belom ngerasain makan pindang ditemani riak Sungai Musi disini. Di sepanjang dermaga bus air, setidaknya ada 5 buah warung pindang terapung, termasuk warung pindang terapung Mbok Sri yang siap memanjakan lidah kamu. Berani coba?. (Nurul/17)

Foto : Moehammad Tohir
http://seputarsumsel.com/mencicipi-kelezatan-warung-pindang-terapung-mbok-sri/

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Syamsurizal, Puluhan Tahun Jadi Tukang Foto Pulau Kemaro

Seputarsumsel.com, Palembang - Siapa yang gak kenal keindahan Pulau Kemaro?. Pulau Kemaro sudah menjadi daya tarik wisata warga Palembang dan wisatawan luar. Selain adanya perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan disini, Pulau Kemaro memang sudah menjadi salah satu destinasi wisata di Kota Palembang, karena hanya berjarak 6 km dari Jembatan Ampera.

Pastinya kalian sudah tahu megahnya pagoda berlantai 9 di pulau ini, ya guys. Pagoda yang selesai dibangun pada 2006 lalu inilah yang paling sering menjadi objek foto, disamping Klenteng Soei Goeat Kiong atau lebih dikenal Klenteng Kuan Im yang lebih dulu dibangun pada tahun 1962. 

Wisatawan yang berkunjung ke pulau ini, pasti tidak akan melewatkan momen berfoto dengan background pagoda ini. Selain bisa berfoto menggunakan smartphone kita sendiri, ternyata disinj juga ada juru fotony, loh.

Seputarsumsel.com berkesempatan membincangi salah satu juru foto yang memang 'mangkal' tepat di depan pagoda, yakni Pak Syamsurizal.

Lelaki paruh baya berusia 72 tahun ini, sudah melakoni profesi sebagai juru foto sejak tahun 1978 silam. Tentu saja, ia sudah memegang kamera sejak masa kamera analog yang menggunakan roll film masih berjaya.

"Dulu, saya mangkal di kawasan Jembatan Ampera. Masa-masa dulu masih banyak sekali yang memakai jasa saya," ucapnya mengenang masa lampau.

Turunkan Harga Karena Majunya Teknologi

Namun, perubahan zaman memaksanya untuk tak lagi bisa bertahan di kawasan Jembatan Ampera. Sejak bawah Jembatan Ampera mulai diperindah, dan para penjual tak bisa lagi membuka lapak dilokasi ini, perlahan jasa Pak Rizal kian tenggelam.

"Apalagi saat ini Benteng Kuto Besak juga sudah 'kosong', apalagi yang bisa saya lakukan disana," paparnya.

Selain lokasi, teknologi yang semakin maju, juga membuat jasa juru foto juga kian terpuruk.

"Sekarang ini, kan, tiap orang sudah punya hp dengan kamera yang bagus. Sulit kalau saya masih bertahan disana," ungkapnya parau.

Alhasil, saat pembangunan pagoda sudah selesai pada tahun 2006, Pak Rizal langsung mengambil langkah dengan berpindah lokasi ke Pulau Kemaro ini. Meskipun dia tahu, ongkos ke pulau ini tidaklah murah, toh tetap saja ia tak punya banyak pilihan.

Setidaknya, setiap hari ia bisa menghabiskan ongkos lebih dari Rp 30 ribu. Bayangkan saja, ongkos pulang-pergi menggunakan perahu ketek dari dan ke Pulau Kemaro Rp 20 ribu, belum lagi ongkos dari rumahnya ke dermaga intirub, dan makan selama di pulau.

Saat ini, jasa foto langsung cetak miliknya hanya dihargai Rp 10 ribu per satu kali foto. Harga ini ternyata lebih murah dari tarifnya di tahun-tahun sebelumnya.

"Tarif mahal gak dipake orang, karena wisatawan sudah punya kamera sendiri. Jadi saya dan teman-teman yang setiap hari disini mengubah harga, supaya gak kehilangan mata pencaharian," ujarnya.

Bapak delapan anak yang kini tinggal di Boom Baru ini berharap, jasa foto seperti dirinya masih bisa menghasilkan rupiah, meski tak lagi seperti dulu.

"Kalo lagi sepi, kadang gak sampe sepuluh orang yang mau difoto. Tapi kalo ada acara keagamaan terutama Imlek dan Cap Go Meh, rejeki ada saja. Pernah sampai 200 foto bisa saya jual," tuturnya.

Kini, di usia senja, Pak Rizal masih menggantungkan kamera DSLR di lehernya, ditemani print photo ukuran mini yang selalu ia bawa ke Pulau Kemaro. Baginya, pulau ini bukan sekedar pulau wisata, tetapi juga menjadi pulau rejeki bagi ia dan keluarganya. (Nurul/17)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Come back

Banyak yg nanya, ehh lu ngapain kok balik lagi. Kok lu gabung lagi di media. Ehh kok skrg di media online yg baru nongol. Ehh kok ini.. Ehh kok itu.. Duhh banyak bener yg kepo..

Eniwey, aq memang balik lg ke dunia yg sempet ditinggalin setahun lamanya. Iya, sejujurnya kukatakan bahwa menulis selalu bisa menghiburku. Menulis bisa membuatku merasa lebih hidup.

Satu tahun lamanya kulalui dg melupakan hobiku. Satu tahun lamanya aku berkecimpung dalam dunia baru. Aku sibukkan diri dg bisnis dan bisnis. Jual ini itu. Urus ini itu.

Ahh.. Tapi ternyata aku selalu rindu tarian jari diatas keyboard. Aku selalu rindu nulis. Sempet beberapa kali bikin cerpen, tapi krn ide selalu mentok, cerpen2 pada gantung. Bosan melanda.

Di titik ini, aq selalu berdoa, minta dikasih posisi terbaik. Pinginnya dikasih kegiatan yg tetep dg hobiku. Dan diakhir tahun Allah kabulin.

Disini aku gak harus keluar rumah tiap hari. Gak harus ngilangin waktu dr pagi ke malem. Dan semua kebaikan2 lain yg Allah kasih. Alhamdulillah.

Walopun kadang memang tetep nguras waktu didepan laptop, tapi aq yakin amanah ini bisa kujaga dg baik. Sangat bersyukur ada di posisi ini. Bukan soal nominal uang, tapi lebih daripada itu. Aq sangat sangat bersyukur.

Big thanks to Allah, ay tras eperiting gona bi olrait. Ay tras eperiting gona bi oke.

Dan teruntuk kamu, semoga Allah segera mempertemukan kita ya.. Aq yakin doa2 akan diijabah olehNya satu per satu. Dan cukuplah aq dikenal sbg kuli tinta. Jika kau berkenan, terima aq sbg kuli tinta, bukan pebisnis, wirausaha, atau apalah embel2 yg bukan milikku seutuhnya 😊

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0

Kepincut Cinta Tukang Ikan Asin

 Kepincut Cinta Tukang Ikan Asin
Fasya nelangsa. Ia duduk di pinggir pantai sendirian. Sesekali, Fasya mengusap air matanya. Fasya menundukkan kepala. Ia mengeluarkan hp dari kantong outer-nya. Wallpaper hpnya masih menggunakan foto Fasya bersama kekasihnya, Farel. Tangisnya bertambah deras. Ia merasa semakin nelangsa.
Benak Fasya masih mengingat dengan jelas peristiwa itu. Pertunangan Fasya dan Farel seminggu sebelumnya, gagal. Pesta pertunangan yang sejatinya berlangsung bahagia, tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran cewek yang mengaku selingkuhan Farel, bernama Nita. Nita menghentikan acara pertunangan, tepat disaat Farel akan memakaikan cincin tunangan di jari Fasya. Nita mengatakan, Farel dan dirinya sudah berpacaran sejak setahun belakangan, tanpa sepengetahuan  Fasya.
Fasya sangat terkejut mendengarnya. Ia langsung memutuskan untuk membatalkan pertunangannya. Farel berusaha untuk menjelaskan semuanya pada Fasya, namun Fasya sudah terlanjur kecewa dan malu. Papa Fasya yang memiliki riwayat penyakit jantung, langsung syok dan pingsan mendengar semua penjelasan dari Nita, yang mengatakan bahwa Farel sudah sering menginap di apartemen Nita. Papa Fasya langsung dilarikan ke rumah sakit. Tak lama, Papa Fasya menghembuskan nafas terakhirnya. Fasya sangat terpukul, begitupun dengan Mama Fasya. Kini, Fasya dan Mama hanya tinggal berdua.
Fasya masih sangat terpukul dan tidak bisa menerima takdir ini. Ia pamit kepada sang Mama untuk pergi sendirian ke pantai itu. Fasya ingin tenang.
Perlahan, Fasya berjalan menelusuri pasir pantai. Ia letakkan tasnya di pasir. Ia mendekatkan kakinya ke ombak yang membasahi pasir. Semakin lama, kakinya semakin basah, ia terus berjalan kedalam air laut. Fasya tak perduli. Air laut hampir menenggelamkan kepalanya.
Tiba-tiba ada sekelebat tangan merangkulnya dan berusaha memaksanya untuk mundur kembali. Ia terkejut. Cowok itu terus menarik Fasya sampai kembali ke pinggir pantai. Baju mereka basah kuyup. Cowok itu mengira, Fasya ingin bunuh diri. Fasya pun bingung. Pasalnya, Fasya hanya ingin berenang sebentar, untuk menentramkan pikirannya.
Cowok itu tak percaya. Ia mengatakan, kalau ingin berenang, mengapa tidak menggunakan baju renang. Dan terjadilah keributan. Fasya yang kesal langsung mendorong tubuh cowok itu, dan pulang ke penginapannya.
****
Esok hari, pagi-pagi Fasya berjalan menelusuri pantai itu lagi. Fasya ingin melihat sunrise. Ia memilih duduk di batu karang, untuk kemudian menyelonjorkan kakinya sehingga menyentuh ombak. Meski banyak tempat duduk di pinggir pantai, ia tak mau duduk disana.
Sunrise datang, Fasya seolah tak berkedip menatap keindahan alam itu. Tapi tiba-tiba ada suara yang mengejutkannya. Fasya pun menoleh, dan ternyata dia adalah cowok yang kemarin mengira ia mau bunuh diri. Fasya kesal. Ia mau pergi, namun cowok itu menghadangnya. Cowok itu memperkenalkan diri. Ia bernama Adin. Adin ingin meminta maaf kepada Fasya, atas kejadian kemarin. Fasya tertunduk. Ia juga meminta maaf, karena membuat orang berfikir bahwa ia ingin bunuh diri.
Pagi itu, menjadi pagi yang berkesan. Adin dan Fasya saling bercerita tentang laut. Adin menceritakan pekerjaannya sebagai nelayan di kampungnya di pinggir pantai itu. Sehari-hari, ia mendayung perahu ke tengah laut, untuk kemudian melempar jaring dan menangkap ikan.
Adin menanyakan, mengapa Fasya pergi ke pantai sendirian. Fasya yang masih merasa sangat sedih, memilih untuk tidak bercerita saat itu. Ia hanya mengatakan, laut bisa membuatnya tenang. Suara ombak adalah suara paling merdu di dunia. Dan Adin pun berpendapat demikian. Katanya, kalau kita ke pantai, dan menyapa Dewa Laut atau Neptunus, maka Neptunus akan memberikan ombak paling indah, agar kita bahagia melihatnya.
****
Adin kembali menemui Fasya. Ia ingin mengajak Fasya untuk ikut bersamanya, melaut demi menangkap ikan. Fasya pun senang. Keduanya segera berlayar, tak perduli dengan matahari yang mulai menampakkan panasnya. Ditengah laut, Adin melempar jaring. Fasya menikmati keindahan laut diatas perahu kecil itu. Namun, kelebat kesedihan membayangi tiba-tiba. Apalagi saat membayangi sosok sang almarhum Ayahnya yang meninggal secara tiba-tiba. Ia meneteskan air mata. Adin yang melihat tangis Fasya, terdiam. Ia menanyakan, mengapa Fasya tiba-tiba menangis.
Fasya pun dengan perlahan bercerita tentang semua yang ia alami. Adin diam mendengarkan semuanya. Lalu, Adin mengatakan. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Dan semua yang terjadi hanyalah perantara takdir. Lihatlah lautan yang luas ini, ibaratkan ini isi dunia. Kita tidak akan pernah tahu, ombak besar ataukah kecil, yang akan menyentuh perahu mereka. Dan yang harus dilakukan adalah tetap berdoa agar diberi keselamatan. Fasya tersenyum. Ia mulai mengagumi sosok Adin yang bijak.
Dan sebagai tanda perkenalan kepada Dewa Neptunus, mereka membuat origami berbentuk kapal, dan menghanyutkannya ke laut biru.
Pulang dari tengah laut, Adin mengajak Fasya kerumahnya yang sederhana. Rumah yang Adin tempati bersama ayahnya, sedangkan sang ibu sudah lama meninggal dunia. Ayah Adin yang melihat kedatangan mereka, langsung menawarkan ikan asin buatan mereka. Fasya yang tidak pernah mencicipi ikan asin selama hidup, awalnya merasa agak takut. Namun, Adin meyakinkan bahwa ikan asin ini sangat enak, apalagi disajikan dengan nasi hangat.
Setelah mencicipi, Fasya ternyata menyukai rasanya. Ayah Adin pun membungkusi sekantong penuh ikan asin untuk dibawa pulang Fasya. Fasya bertanya, mengapa begitu banyak ikan asin yang mereka buat. Namun, Adin mengisyaratkan sesuatu, sehingga Ayah Adin tidak jadi menjawab pertanyaan Fasya. Lalu, Adin hanya menjawab, hanya kebetulan saja mereka membuat banyak ikan asin hari ini.
****
Sudah beberapa hari Fasya berlibur ke pantai. Ia masih enggan untuk pulang. Ia makin kerasan disana, apalagi sejak ia dan Adin dekat. Adin banyak bercerita tentang laut, dan kekayaan alam yang ada didalamnya. Fasya yang memang juga sangat menyukai laut biru, merasa nyambung dengan obrolan-obrolan mereka.
            Setiap hari ia makan di rumah Adin, ditemani Ayah Adin yang ternyata juga menyukai kehadiran Fasya. Ayah Adin beranggapan jika Adin sudah banyak berubah dengan kehadiran Fasya. Adin terlihat lebih bergembira, suka berceloteh, tidak seperti sebelumnya yang tertutup dan jarang bicara. Fasya pun sudah menyukai ikan asin, yang menurutnya sangat gurih dan mengundang nafsu makan.
            Namun ternyata, ada sesosok perempuan yang tidak menyukai kedekatan Fasya dan Adin. Dia adalah Yuna, tetangga Adin yang sudah sejak lama menyukai Adin, namun tidak pernah mendapat tanggapan dari Adin.
****
Saat Fasya dan Adin berjalan menyusuri pinggir pantai dimalam hari, tiba-tiba ada ponsel Fasya berbunyi. Ada telepon dari Mamanya. Beliau meminta Fasya untuk segera pulang esok hari, karena ada hal penting yang ingin dibicarakan. Fasya terhenyak. Ia masih ingin berada di pantai ini, dan masih ingin bersama Adin. Namun, Adin mengatakan, jika mereka berjodoh untuk dipertemukan lagi, maka Adin akan mengajak Fasya untuk melaut lagi bersamanya, dan akan menunjukkan suatu tempat yang indah di laut itu. Dan Fasya pun mengiyakan.
Esoknya, Fasya kembali kerumahnya. Tiba di rumah, Mama Fasya menyambut anaknya denganm pelukan. Lalu, beliau mengatakan, Fasya harus segera belajar di kantor almarhum ayahnya, agar bisa mengurus usaha Real Estate yang dimiliki sang ayah. Mama Fasya menerangkan, saat ini usaha Papanya dalam keadaan gonjang-ganjing, karena banyak menderita kerugian akibat ditipu rekan bisnis Papanya. Fasya menyanggupi permintaan sang Mama.
Adin kesepian ditinggal Fasya. Apalagi ia dan Fasya tidak bisa berkomunikasi, karena tidak saling bertukar nomor hp atau media social. Namun, Adin yakin, jika memang berjodoh, maka mereka akan bertemu kembali. Yuna mendatangi Adin yang sedang duduk sendirian di tepi pantai. Ia mengatakan, Adin tidak boleh menyukai wanita kota, karena orang kota sudah mengganggu ketenangan kampung mereka. Di wilayah kampung mereka akan didirikan penginapan dan hotel besar, agar wisatawan bisa lebih leluasa untuk berlibur. Sementara, warga kampung banyak yang tidak menyetujui pembangunan ini, karena dianggap akan berdampak buruk bagi perekonomian dan pendapatan kampung mereka.
****
Bekerja dikantor Papanya, Fasya mempelajari banyak hal. Mamanya ikut membantu pekerjaannya. Suatu hari, tiba-tiba Nita datang kekantor Papa Fasya, dan langsung masuk ke ruangannya. Fasya sangat terkejut. Ia meminta Nita untuk segera pergi. Namun, Nita membawa berkas-berkas penting yang membuat Fasya makin terkejut. Perusahaan Papa Fasya diambang kehancuran, karena rekan bisnis Papa yang menipunya ternyata adalah perusahaan milik Nita. Fasya berang, apalagi saat  Nita mengatakan, ia sengaja berbohong terkait hubungannya dengan Farel, untuk membuat Papa Fasya syok dan terkena serangan jantung, agar perusahaan saingannya itu kehilangan sosok pemimpin. Fasya tak terima. Ia sangat marah. Ia langsung memanggil satpam untuk mengusir Nita.
Suatu hari, Farel datang. Farel meminta Fasya untuk kembali padanya. Fasya yang sudah mendengar pengakuan Nita, akhirnya memaafkan Farel, dan mereka kembali berpacaran. Farel turut membantu Fasya mengelola perusahaan. Ia menjadi asisten Fasya. Semakin lama, keuangan perusahaan kembali membaik. Namun tidak dengan Fasya.
Hati Fasya telah terpaut kepada sosok Adin. Ya, ia selalu memikirkan. Semakin hari, Fasya semakin merindukan Adin, dan 3 bulan kemudian akhirnya Fasya berniat untuk kembali berlibur ke pantai, namun tanpa sepengetahuan Farel.
****
Fasya kembali ke pantai untuk menemui Adin. Adin langsung mengajaknya berlayar. Mereka berperahu ke tengah laut, namun Adin mengarahkan perahunya ke batu karang indah yang ada di bagian lain pantai itu. Perahu dilabuhkan dipinggir batu karang. Adin membantu Fasya untuk naik keatas. Dari atas puncak batu karang itu, Fasya bisa melihat laut yang lebih luas lagi. Ia memejamkan mata, dan menikmati tamparan angin laut yang begitu sejuk. Adin mengatakan, inilah tempat paling indah di pantai itu. Tempat yang selalu ia datangi jika ia merasa sedih. Fasya berterimakasih pada Adin yang sudah menepati janji untuk mengajaknya ke puncak batu karang itu.
Malam harinya, mereka menikmati ombak laut di pinggir pantai. Namun, tiba-tiba Farel muncul. Fasya tidak menyangka Farel menyusulnya. Farel mengatakan, malam itu juga Fasya harus pulang bersamanya. Farel menjelaskan kepada Adin, bahwa Farel dan Fasya akan segera menikah. Adin kecewa dan patah hati.
Di rumah, Farel memarahi Fasya. Ia mengancam akan memutuskan hubungan dan tidak akan membantu Fasya lagi di perusahaannya, jika Fasya masih berhubungan dengan Adin. Mama Fasya pun mengiayakan. Beliau juga turut melarang Fasya untuk kembali ke pantai itu.
Namun Fasya terlanjur mencintai Adin, begitupun sebaliknya. Dalam hati, Fasya berdoa, jika suatu saat nanti, ia dipertemukan satu kali lagi dengan Adin di belahan bumi manapun, maka Adin adalah jodohnya.
****
Siang itu, Fasya mengecek lokasi pembangunan hotel dan penginapan yang sedang dikerjakan perusahaannya. Perumahan itu ternyata dibangun di dekat kawasan pantai favorit Fasya. Pantai tempat ia dan Adin selalu bersama. Namun, ia yang berkunjung bersama Farel, tidak bisa berbuat apa-apa, padahal ia ingin sekali menemui Adin.
Baru beberapa saat berdiri di kawasan pembangunan hotel, tiba-tiba Fasya dan Farel dikejutkan dengan kedatangan puluhan warga dari kampung terdekat. Mereka menyampaikan keberatan, jika ada hotel dan penginapan baru yang akan dibangun di kawasan ini, karena menurut mereka, dengan adanya pembangunan ini, penginapan milik warga yang terbilang sederhana itu tidak akan disewa lagi oleh para wisatawan. Mereka pun mengancam akan merusak rencana pembangunan itu jika tidak segera dihentikan.
Tiba-tiba, Adin muncul. Ia menerangkan kepada warga, bahwa pembangunan ini malah akan berdampak kepada kemajuan kampungnya. Adin menyelamatkan Fasya dari protes warga. Namun Farel tidak suka. Setelah kerumunan warga bubar, ia mengatakan kepada Adin, untuk tidak mencampuri urusan mereka.
Fasya bertanya mengapa Adin bisa ada di kawasan pembangunan hotel ini. Yuna menyusul Adin, langsung mendekati mereka. Fasya yang bertemu pandang dengan Yuna merasa heran, dan penasaran siapa Yuna, yang tiba-tiba langsung merangkul tangan Adin.
Belum sempat Adin menjawab, Farel datang dan langsung menarik Fasya masuk ke dalam mobil. Fasya tidak mau, tapi Farel terus memaksanya. Fasya menangis sepanjang perjalanan pulang. Ia teringat doa yang pernah ia ucapkan. Mungkinkah Adin jodohnya? Tapi siapa wanita itu?
****
Adin marah kepada Yuna, yang tiba-tiba merangkulnya begitu saja di hadapan Fasya. Ia mengatakan, bahwa Yuna tidak bisa memaksakan cinta seseorang. Yuna menangis.
****
Fasya tidak bisa berbuat apa-apa. Mama Fasya dengan tegas melarangnya, dan segera mempersiapkan pernikahan antara Fasya dan Farel. Orangtua Farel dan Mama Fasya sudah melakukan pertemuan keluarga, dan memutuskan untuk menikahkan keduanya satu bulan lagi.
Fasya sedih. Pikirannya tidak fokus untuk bekerja. Sore itu ia berniat untuk melepas penat ke cafe sendirian. Lewat didepan pintu ruangan Farel yang tak jauh dari ruangannya, ia mendengar suara percakapan dari telepon. Terdengar suara Farel berkata, jika ia sudah menikahi Fasya, maka ia akan langsung mengambil alih perusahaan Papa Fasya ini, dan akan menceraikannya untuk kemudian menikahi orang yang sedang berbicara dengannya. Fasya terkejut bukan kepalang. Namun, ia segera bersembunyi saat Farel menutup telepon dan keluar ruangan.
Diam-diam, Fasya mengikuti mobil Farel, menuju ke sebuah cafe. Tanpa sepengetahuan Farel, Fasya membuntutinya hingga masuk ke dalam cafe. Dan ternyata Farel hendak menemui Nita. Alangkah terkejutnya Fasya melihat semua ini. Dengan menahan tangis, ia berdiri dihadapan Nita dan Farel yang sedang berpegangan tangan mesra. Mereka tidak menyangka akan ketahuan oleh Fasya. Dengan tegas Fasya memutuskan hubungan dengan Farel saat itu juga. Fasya tidak pernah menyangka, bahwa Farel dan Nita bersekongkol untuk merebut perusahaan Papanya dengan cara licik.
Dengan membawa hati yang hancur, Fasya pulang kerumah, dan segera berkemas membawa beberapa bajunya. Ia ingin pergi menemui Adin.
****
Adin duduk di tepi pantai, menunggu kedatangan Fasya. Yuna mendekati Adin. Ia meminta maaf atas tindakannya waktu itu. Ia mengatakan, ia sudah merelakan Adin untuk Fasya.
Fasya dating ke pantai, namun ia melihat kebersamaan Adin dan Yuna di tepi pantai itu. Ia kecewa. Namun Adin melihatnya. Fasya berbalik dan lari, namun Adin dengan sigap mencegahnya. Pandangan mereka bertemu, dan Adin langsung memeluknya erat. Adin mengatakan, Yuna sudah menyesal dengan perbuatannya yang seolah ingin membuat Fasya cemburu. Ia ingin jujur pada Fasya, bahwa ia tidak mencintai Yuna. Ia hanya mencintai Fasya.
Adin menanyakan, bagaimana hubungannya dengan Farel. Dan Fasya pun menjelaskan semuanya, termasuk perasaan cintanya ke Adin.
Mama Fasya ternyata menyusul Fasya ke pantai. Mamanya merangkul Fasya, dan mengatakan sudah membatalkan rencana pernikahan Fasya dan Farel. Farel pun berterimakasih pada sang Mama. Yuna menyusul mereka, dan mengatakan jika memang benar Adin sangat mencintai Fasya, bukan dirinya.
Lalu, Fasya bertanya, apakah Mamanya merestui hubungannya dengan Adin. Mama Fasya menyetujui, namun ia ingin tahu siapa dan apa pekerjaan Adin.
Ternyata, Adin adalah seorang sarjana perikanan kelautan, dan membuka pabrik ikan asin, salai, dan ikan olahan lainnya di kawasan dekat pembangunan hotel yang dibangun perusahaan Fasya. Ia mengelola pabrik tersebut dan mempekerjakan orang-orang disekitar kawasan pantai, sehingga membuka lapangan kerja baru. Ia merangkul para nelayan disana untuk mendapatkan uang lebih, selain menjual ikan segar kepada pedagang pasar di kota. Ia adalah seorang pengusaha sukses, tanpa Fasya ketahui sebelumnya.
Kini, Nita dan Farel sudah ditangkap polisi dengan tuduhan penipuan. Adin melamar Fasya. Ia mewujudkan impian Fasya, menikah dengan sederhana di pinggir pantai. Ijab qobul diiringi suara ombak, dengan mas kawin sekilo ikan asin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read User's Comments0